Catatan pengembang, 9 Oktober 2026
Siapa bersulang lebih dulu, dialah yang menentukan perang
Waktu kami mulai membuat TOWERFEUD, perang antar-klan terasa mudah ditulis: pedang, penyergapan, menara terbakar. Yang sulit justru meja makan. Di lembah seperti Ushgal, keputusan besar jarang lahir di medan perang. Keputusan lahir di Supra, jamuan panjang tempat tamada, pemimpin sulang, mengatur siapa bicara dan kapan.
Jadi Supra kami jadikan sistem diplomasi utama. Tidak ada roda dialog. Kamu menyusun urutan bersulang, dan urutan itu dibaca semua orang di meja.
Setiap jamuan punya sembilan sampai dua belas sulang. Sulang pertama selalu untuk orang yang sudah mati, dan siapa yang kamu sebut duluan dianggap pernyataan. Menyebut ayah Tamar sebelum tetua tuan rumah membuat ruangan tegang. Menyebutnya sesudah tetua bisa dibaca sebagai tanda kamu siap memaafkan. Klan di meja membaca urutan itu seperti kita membaca surat perjanjian.
Di playtest awal, pemain memperlakukan Supra seperti teka-teki dengan satu jawaban. Itu salah kami. Sekarang setiap tamu membawa ingatan sendiri: dendam lama, utang kecil, anak yang sedang dijodohkan. Sulang yang menyenangkan satu orang hampir selalu menyinggung orang lain. Urutan sempurna tidak ada. Yang ada urutan yang masih bisa kamu pertanggungjawabkan besok pagi.
Ada juga lagu. Di beberapa jamuan tamu mulai menyanyikan lagu bersahutan, dan kamu harus tahu kapan menjawab dan kapan diam. Bagian ini kami rekam dengan dua belas penyanyi dan banyak sekali teh.
Supra yang gagal tidak langsung memicu perang. Biasanya dimulai dari hal kecil: kursimu digeser ke ujung meja, jembatan dijaga lebih ketat, elangmu tidak lagi diberi daging di desa itu. Lembah menghukum pelan-pelan. Itu yang membuatnya terasa seperti rumah.





